Sabtu kemarin tepatnya tanggal 24 Oktober 2015, gue berkesempatan untuk mengunjungi pulau Bangka setelah diberikan ijin/izin cuti selama tiga hari oleh Plh Kepala Kantor yang waktu itu dijabat oleh salah satu bobotoh Persib cuma beliyau kelahiran Jakarta (nah bingung kan lo). Sebagai warga binaan Alex Noerdin Sumatera Selatan, seumur hidup baru kali ini berencana menjejakkan kaki kesana. Bokap yang dulunya sales di jaman orde baru, sering sekali maen kesana entah untuk tujuan apa karena yang bersangkutan tidak pernah memberitahukan kami maksud dan tujuannya apalagi mengajak anak-anaknya yang mbalelo ini...tulisan gue bagi beberapa segmen, biar elo pada paham, mandiri dan gak jenuh bacanya yah yuk
1. Perjalanan dari Bandara SMB ke Bandara Depati Amir
Perjalanan ini gue lalui dari kota kelahiran gue Palembang melalui bandara internasionalnya Sultan Mahmud Badaruddin II dengan menggunakan maskapai Lion Air yang terkenal sebagai raja delay itu sob.. Alternatif lain dari Palembang lo bisa naek kapal cepat / jet foil dari pelabuhan Boom Baru Palembang ke Pelabuhan Mentok dengan harga seratusan ribu atau, elo bisa bawa kendaraan pribadi melalui Pelabuhan Tanjung Siapi-api (gak direkomendasikan kalau elo trip sendiri). Gue memilih berangkat bakda subuh naek pesawat, jadual penerbangan jam 06.10, namun sampek sana pesawat yang sudah stand by dan siap diberangkatkan harus merelakan keberangkatannya on time dikarenakan cuaca bandara Depati Amir Pangkal Pinang yang berasap akibat pembakaran lahan hutan di negara Kalimantan dan Sumatera. (pas lo baca ini entah tahun berapa pasti lo inget waktu itu Presiden Indonesia Joko Widodo sedang dinas ke USA). So, pesawat di delay sampe jam 08.00 dan penerbangan ditempuh dalam waktu sekitar 20 menit tanpa minum apalagi makanan. Abis lampu peringatan seat belt mati, pilot langsung bacot "flight attendance prepare for arrival", kebayang gak lo naek pesawat 200 ribu perak cuma bentar, rugi sob..
Fine, setelah penerbangan yang begitu melelahkan, akhirnya gue mendaratkan kaki di bandara Depati Amir, Pangkal Pinang. Setelah kelar urusan bagasi gue menuju ke konter Pariwisata Provinsi Bangka Belitung, konter ini kecil, terletak di samping pengambilan bagasi, disana elo bisa mendapatkan informasi, brosur, booklet, dan cd yang berisi destinasi pariwisata di Kep Bangka Belitung, sangat informatif karena gue buta sama sekali mengenai pulau ini dan hal demikian sangat-sangat membantu gue yang berperan sebagai wisatawan lokal disana.
Oke, terima kasih buat mbak-mbak penjaga konter pariwisata, langkah berikutnya adalah mencari taksi untuk segera bergegas ke hotel, cukup bayar taksi 60 ribu perak untuk rute dalam kota atau 100ribuan perak untuk rute Sungai Liat, Koba dan kota sekitaran Pangkal Pinang.
Waktu menunjukkan pukul 09.30, kondisi udara mendung, pas banget buat jalan-jalan.
2. Hotel Murah di Pangkal Pinang, Bangka
Kenapa gue beri judul poin 2 demikian, karena gue tau elo yang baca blog ini pada kismin semua, mau yang murah dan cari ke si mbah
Google. Gapapa gue paham, karena kita senasib sob, setelah gue riset dan hunting hotel murah di Pangkal Pinang ini via traveloka, agoda, hotel, dkk gue putuskan untuk menginap di Menumbing Heritage Hotel. Menurut sopir taksi bandara yang membawa gue ke hotel tersebut, hotel ybs adalah hotel tua di Pangkal Pinang dan di renovasi ulang. Well pasti banyak cerita mistis, erotis dlsb mengingat hotel tersebut terletak di tengah pasar!!! Gilak kan amazing bgt. Lupakan hal tersebut kisanak, story telling driver tadi agak buat gue gundah dan kepikiran jelek selama dalam perjalanan ke hotel, tapi entah kenapa semakin dekat kesana, gue berkeyakinan positif bahwa penginapan terpilih tersebut kelak membawa kebahagiaan untuk gue, bini gue yang singset, anak gue yang suka berantem, pembokat gue, anjing tetangga yang suka kejer anak kecil di komplek, cicilan KPR gue, dan nenek gue yang masih idup ampe sekarang..
Gak butuh waktu lama untuk sampe ke hotel tersebut, kira-kira 10 menitan, rute yang gue lalui melewati hotel Novotel dan Santika. Ada baiknya kalau dana elo berlebih, menginaplah disana dengan konsekuensi agak susah kemana-mana pas malam hari coz gak ada angkot di kota ini. Yap, sampe di lobi Menumbing Heritage, gue ke reservasi, hospitality mereka dalam melayani guest patut diapresiasi, serasa gue mau namu ke hotel berbintang 4 atau lebih, gue kasih rate 4/5 untuk keramahan mereka disini. Gue dikasih double bed di lantai 3 menghadapa ke genteng, fine, its oke karena gue agak kurang suka kamar menghadap jalan.
Next post gue bakalan cerita sekilas mengenai hotel Menumbing ini sob,..